Laman

Minggu, 14 Agustus 2011

Cinta yang agung

Cinta yang agung
Adalah ketika kamu menitikkan air mata
dan masih peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH
menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain
dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku
turut berbahagia untukmu’

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika di mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
” aku turut berbahagia untukmu ”

Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang iu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

Apabila cinta tidak berhasil…BEBASKAN dirimu…
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya
dan terbang ke alam bebas lagi ..
Ingatlah…bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan
kehilangannya..
tapi..ketika cinta itu mati..kamu TIDAK perlu mati
bersamanya…

Puisi rindu kekasih

Puisi Rindu
Segurat wajah sendu... Seuntai syair pilu...
Sepotong hati yang berbalut rindu..
Rindukan hadirmu, rindukan senyummu..
Tuhan di Surga.. trimakasih tlah kau Kirim
Dia yang sangat berarti
Untuk hidupku
Dia pelangi hatiku, warnai hariku...
Sepotong asa didada untuk tetap ada, takkan sirna
Kini... nanti... dan sepanjang masa.


           Puisi Rindu
Awalnya ku tak sungguh2 mnyukaimu
kemudian sedikit demi sedikit
Ku mulai mnyayangimu
Tapi kini kau seperti
Semkin terasa jauh dariku
Tak tahu ku kenapa begitu
Seperti daun yang tertiup angin
Entah sanggup ku raih entah tidak
Aku merindukanmu
Sangat amat merindukanmu
Aku hanya bisa menuliskannya pada Selembar kertas putih yang bersih
Betapa ku merindukanmu
seperti ratusan liter air yang berada di pantai
seperti itulah rinduku padamu


         Puisi Rindu
Hari-hari ku sepi dan sunyi
Hanyalah kerinduan yang begitu mendalam kurasakan padamu
Saat aku hanya sanggup meneteskan air mata
Saat aku hanya sanggup tuk terdiam dan terkatub
Aku telah menahan rindu ini kasih
Bilakah kita bersua

Kegagalan berubah iman

Tuhan…
dia terlalu indah tuk dilupakan…
terlalu sedih jika dikenang…
betapa hatiku bersedih…
mengenang semua yang berasal darinya…

Tuhan…
masih membekas bayangan akan dirinya…
yang telah mengisi relung hatiku…
disetiap sapaannya… serta disetiap kata-katanya…
mengandung keceriaannya…

Tuhan…
hamba memang lemah…
tapi mengapa dia memberikanku harapan?
seraya harapannya aku pun langsung melayang…
langksana burung yang bebas kemana-mana…

Tuhan…
kini ku telah jatuh dari langit dan hancur berkeping-keping…
tertembak oleh peluru yang tepat pada bagian sayapku…
sekarang aku pun tau… harapan itu palsu…
sayapku pun sudah rapuh dan tak bisa terbang kembali…

Tuhan…
andaikan hamba boleh memilih…
hamba kan memilih menjadi bagian dari lautan-Mu…
karena sekalinya ternodai…
ia kan cepat kembali bersih dan tertata seperti semula…

Tuhan…
apabila ini sudah menjadi takdir hamba…
hamba harap agar Engkau membimbingku pada jalan yang benar…
jangan Kau sesatkan hamba karena kegagalan seperti ini…
hamba yakin dengan kegagalan ini… agar hamba menjadi lebih beriman pada-Mu…

Musim

Mari sayangku, marilah kita berjalan di tengah-tengah perbukitan

Karena salju masih menjadi air dan kehidupan masih terjaga dari tidurnya, menjelajahi perbukitan dan lembah-lembah.

Marilah kita ikuti jejak Musim Semi ke lading di kejauhan

Dan naik ke puncak bukit untuk mendapat ilham

Di atas dataran tinggi hijau yang sejuk.

Fajar Musim Semi telah membuka pakaiannya

Yang disimpan selama Musim Dingin

Lalu menempatkannya di atas pohon-pohon prem dan sirtus.

Dan mereka tampak seperti mempelai wanita dalam upacara adat Malam Kedre

Ranting-ranting pohon anggur saling berangkulan seperti kekasih

Dan aliran sungai kecil menari-nari di antara bebatuan

Mengulang nyanyian sukacita

Bunga-bunga tiba-tiba saja berkembang dari jantung alam

Seperti buih di jantung lautan

Marilah sayangku, marilah kita minum

Air mata terakhir Musim Dingin dari bunga bakung

Yang menyejukan jiwa kita dengan nyanyian burung-burung

Berjalan-jalan gembira melalui hembusan angin lembut yang memabukkan

Marilah kita duduk dekat batu itu, tempat bunga violet bersembunyi

Marilah kita kejar manisnya pertukaran kecup mereka

Musim Panas

Marilah kita pergi ke lading sayangku,

Sebab waktu panen sudah dekat dan sinar matahari

Mulai mematangkan gandumnya

Marilah kita rawat buih bumi,

Sementara jiwa menumpuk andum suka cita

Dari benih cinta yang ditaburkan dalam hati kita

Marilah kita isi wadah kita dengan hasil alam

Sementara kehidupan mengisi hati kita dengan kelimpahannya

Marilah kita jadikan bunga-bunga tempat tidur kita

Dan langit selimut kita

Marilah kita bersantai setelah seharian bekerja

Dan mendengar suara aliran sungai kecil yang menggoda

Musim Gugur

Marilah kita pergi mengumpulkan buah anggur di kebun anggur

Untuk diperas dan menyimpan minuman anggurnya dalam wadah yang lama

Seperti jiwa yang menyimpan pengetahuan sepanjang masa

Di dalam wadah-wadah kekal

Marilah kita kembali ke tempat tinggal kita

Sebab angin telah membuat angin-angin yang menguning jatuh

Dan menyelebungi bunga-bunga yang mongering

Membisikan nyanyian kematian pada Musim Panas

Pulanglah kekasihku yang kekal,

Sebab burung-burung telah berziarah ke tempat yang hangat

Dan meninggalkan daratan tinggi yang dingin

Menderita sendirian

Bunga melati dan semak belukar

Tak memiliki air mata lagi

Marilah kita tidur sebab aliran sungai kecil yang letih tidak lagi bernyanyi

Dan Musim Semi yang penuh keriangan telah habis tangisnya

Perbukitan tua pun telah menyimpan pakaian warna-warni mereka

Marilah sayangku,

Alam pantas letih dan sedang mengucapkan selamat tinggalnya

Dengan melodi yang hening dan penuh kepuasan